Chapter 02: Teman Sekelas
Beberapa
pertanyaan muncul di benak Hiiro tentang apa yang terjadi. Tapi untuk
sekarang, dia sadar kalau levelnya masih level satu. Jika ini adalah
dunia RPG, ini mungkin wajar kalau ia masih level satu, orang dia belum
pernah bertarung semenjak dia datang ke dunia ini.
Tapi,
kenapa MP (tenaga sihir) nya sangat besar? Mungkin saja ini salah satu
efek dari “World Traveller”, yang punya tenaga sihir tinggi seperti yang
dijelaskan oleh raja tadi. Omong-omong, point HP menunjukkan endurance,
MP menunjukkan tenaga sihir, EXP experience dan NEXT menunjukkan point
experience yang dibutuhkan untuk bisa naik level. ATK, DEF, AGI, HIT,
INT melambangkan attack power(kekuatan serang, TL note: buat selanjutnya
istilah-istilah ini pake inggrisnya supaya enak dibacanya
),
defence(pertahanan), agility(kelincahan), hit chance(kesempatan
menyerang, walaupun aku sendiri ga tahu ini pastinya buat apa =D) dan
intelligence(pengetahuan). Itu semua sama seperti istilah-istilah yang
sering digunakan dalam game RPG.
Hiiro
terkejut melihat point AGI yang dimilikinya tinggi, tapi dia lebih
terkejut tentang title yang dimilikinya <>. Title ini jelas-jelas
menunjukkan kalau dia itu cuma kebawa-bawa aja sama 4 Hero. Dengan kata
lain, dirinya sendiri bukanlah Hero, tapi cuma orang biasa.
Meskipun dia lebih ingin tahu dengan sihirnya itu, tapi dia pikir lebih baik untuknya tidak menanyakan tentang itu disini.
Saat dia sibuk memikirkan penjelasan untuk situasinya sekarang, Rudolph bertanya pada mereka.
“Jadi Bagaimana? Saat kamu melihat ke bagian tittle, seharusnya itu menunjukkan Hero.”
Taishi yang pertama menjawab.
“Iya, ada ada, itu nunjukkin Hero disitu, Uwaaahhhh~ Keren, aku beneran Hero.” Ucapnya gembira.
“Hey, kamu gimana Chika?”
Orang
yang menunjukkan pertanyaan Taishi adalah Suzumiya Chika. Dia itu
seseorang yang talkative(banyak bicara) dan cewe yang popular di kelas.
Sifat langsung dan terbukanya saat berinteraksi dengan orang lain
memberinya nilai positif. Rambut pendeknya diwarnai lebih pucat dari
milik Taishi. Dadanya memang kurang menarik, tapi tubuhnya rampingnya
membuatnya menarik perhatian banyak cowo.
“Ya, aku juga sama Taishi.”
“Bagus, kalo kalian, Shuri, Shinobu?”
Taishi
memanggil 2 cewe lainnya. Minamoto Shuri, rambutnya panjangnya yang
berwarna hitam berkilau. Tidak seperti Chika, dia punya bentuk tubuh
indah yang sangat menarik perhatian cowo. Dia adalah anggota klub teh
jadi banyak cowo yang datang ke klubnya hanya untuk melihat dia
mengenakan kimono.
Cewe yang satunya lagi
, Akamori Shinobu adalah seseorang yang hidupnya penuh dengan rasa
keingintahuan. Aktif di klub Koran sekolah, dia juga berencana mencari
pekerjaan di bidang yang sama. Dia seseorang yang talkative juga sama
seperti Chika dan salah satu siswi terpintar di sekolah.
Rambut
hitam sedikit bergelombangnya yang panjangnya sampai ke bahunya. Dari
mata liciknya, seakan bisa terlihat dia tidak akan pernah melepaskan
mangsanya. Apalagi dia adalah orang Kansai.
Mereka
bertiga sangat cantik dengan karakteristiknya masing-masing. Dan mereka
adalah anggota haremnya(harem=sebutan buat seseorang yang disukai oleh
minimal 3 cewe/cowo atau lebih, kalo cowo mah disukai sama cewe, cewe
juga sebaliknya) Taishi, mereka bertiga selalu terlihat bersama dengan
Taishi.
“Ya, aku ada juga” ucap Shuri.
“Sama aku juga” kata Shinobu.
Setelah konfirmasi dari Shinobu, tatapan semua orang tertuju pada Hiiro.
“Kalo kamu gimana?” Tanya Taishi pada Hiiro.
“… Ga ada” jawab Hiiro simple.
“Jadi, bisa kamu kasih tau title apa yang kamu punya?”
Hiiro merasa terganggu, tapi dia tetap menjawab.
“<>”
Ekspresi muka keempat teman sekelasnya berubah, mereka memasang ekspresi tidak percaya tentang apa yang dikatakan Hiiro.
“<>…? Lilith, kamu tahu maksudnya apa?”
“Ehh, Uhm… Ya. Itu lebih seperti…”
Lilith
menjawab sambil menundukkan kepalanya, tidak tahu apa yang harus
dikatakannya. Hiiro yang mengetahui itu menghela nafasnya, lalu berkata.
“Aku Cuma orang biasa. Aku cuma kebetulan ada di kelas waktu itu bersama orang-orang itu. Benar?”
“Uh-Uhmm….”
“Hey!
Okamura! Apaan sama orang-orang itu?” ujar Chika sambil menunjuk pada
Hiiro, tapi Hiiro hanya mengabaikannya dan meneruskan ceritanya.”
“Sebenarnya,
Cuma 4 orang yang seharusnya dipanggil kesini. Dan keempat orang itu
ada disana. Aku cuma kebawa-bawa aja kesini. Apa yang mau kamu lakukan
lagi sama fakta itu?”
Hiiro mengatakannya tanpa rasa kebencian. Lilith, orang yang memanggil mereka ke dunia ini, mukanya berubah pucat mendengar itu.
“Ya… ini bukan Cuma aku, tapi orang-orang itu juga terbawa kesini karena masalah kamu. Aku yakin keluarga mereka khawatir.”
Ekspresi Lilith semakin dan semakin terlihat patah hati.
“Anda benar. Saya Cuma bisa meminta maaf tentang masalah ini.”
Raja meminta maaf tentang itu. Hiiro pikir itu bisa dijadikan alasan, tapi sepertinya raja mengetahuinya.
“Saya pikir ini adalah jalan terakhir. Kalo kami tidak memanggil kalian ke dunia ini, maka ras manusia akan punah.”
“Engga, kalo boleh jujur, aku ga peduli dengan masalahmu.”
“Huh?”
Waktu seakan berhenti dengan kata-kata Hiiro.
“lagian aku ga punya hubungan sama orang-orang itu.”
“hey, Okamura! Bukannya kita teman sekelas?” jawab Taishi marah.
“Ya, kita memang teman sekelas. Tapi faktanya kita Cuma belajar bersama dalam satu ruangan atas pilihan sekolah.”
“Itu udah kelewatan..”
“Ya, semenjak kita akhirnya udah bisa bersama~”
Shuri dan Shinobu mengeluarkan pendapat mereka.
“Mungkin
menurut kamu gitu, tapi faktanya aku belum pernah ngobrol satu kalipun
dengan kalian dalan 4 bulan ini semenjak kita satu kelas.”
Itu
adalah fakta. Hiiro dasarnya lebih suka sendiri, jadi dia membuat jarak
antara dia dengan yang lain, tidak Cuma dengan mereka berempat.
Taishi
dan yang lainnya hanya diam dengan kata-kata Hiiro. Hiiro benar, mereka
belum pernah mengobrol dengan Hiiro, padahal mereka satu kelas. Dan
juga faktanya, mereka tidak pernah mencoba untuk mengobrol dengan Hiiro.
“Oke,
sesuai dengan yang aku ngomongin aku ga punya hubungan apa-apa dengan
mereka berempat. Kalian ingin 4 Hero kan? Jadi aku ga berguna
disinikan?”
“Mh-Mhm…” Rudolph memasang ekspresi kesulitan.
“Karena
mereka Hero, mereka past bisa bertarung dengan Evila mau gimana caranya
juga kan? Tapi aku cuma ‘no-name character’. Kamu ga bakal ngirim aku
ke tempat berbahaya kaya gitukan?”
“Jadi saya bertanya, apa yang mau kamu lakukan sekarang?”
“Pulang”
“Dokumen mengatakan cuma raja iblis yang tahu sihir yang bisa membuatmu pulang.”
Jawab
Rudolph yang terlihat meyakinkan, Lilith memasang ekspresi suram di
mukanya. Melihat itu, Hiiro hanya diam walaupun ia tahu kalau raja
berbohong.
“Jadi, kita Cuma harus ngalahin raja iblis secepatnya!”
‘Dasar
tolol, walaupun raja iblis tahu sihir semacam itu, gimana caranya kamu
ngalahin raja iblis hah?’ gumam Hiiro dalam hati mendengar ucapan
Taishi.
“Ya, selain itu, Negara ini sangat indah, anda pasti akan menyukainya.”
Ucap Rudolph yang mencoba membujuk Hiiro, Hiiro hanya mengangkat pundaknya mendengar itu.
“Ah..
kalo boleh aku tambahin, aku khawatir sam akeluarga aku.” Ujar Chika,
namun yang lain pun pasti khawatir tentang keluarganya, tidak hanya
Chika saja.
“Itu tidak perlu anda khawatirkan, faktanya kalian sudah dilupakan di dunia sana.”
“Di-dilupakan!?”
Semuanya terkejut mendengar itu.
“Ah, tenang aja, kalau kalian kembali ke dunia itu, itu tidak akan berubah..”
Ucap raja ragu-ragu
‘Aahh… itu pasti bohong juga’ tebak Hiiro dengan melihat kelakuan raja.
‘Semua
yang dikatakan mereka itu bohong. Itu alasan untuk ngebuat kita mau
bertarung. Sihir buat kembali… itu tidak ada. Setidaknya untuk
sekarang.’ Gumam Hiiro
Hiiro
melihat ke arah empat orang yang lain, tapi sepertinya Cuma dia yang
sadar. Taishi dan Chika sepertinya tidak menyadarinya. Shuri dan Shinobu
hanya cemberut mendengar cerita itu.
‘Aku sih ga peduli tentang mereka. Kalo cuma aku sendiri.. bisa mengatasinya.’
Okamura
Hiiro Tumbuh besar di panti asuhan. Kedua orang tuanya bukannya
meninggal dalam kecelakaan saat ia masih kecil. Di panti asuhan, Hiiro
membuat beberapa teman, tapi Hiiro yang sangat menyukai buku,
menghabiskan waktunya seharian dengan membaca buku. Baginya, buku lebih
dekat ke temannya daripada orang disekitarnya.
Lilith
yang tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk kembali, hanya memasang
ekspresi murung dimukanya semenjak tadi. Dia mungkin merasa bersalah
karena telah berbohong. Taishi dan cewe yang lain mulai berbincang
tentang apa yang akan mereka lakukan dari sekarang. Mereka sadar kalau
tidak ada jalan untuk pulang mendengar penjelasan dari Rudolph.
“Seperti yang Okamura katakan, kamu seenaknya aja manggil kami ke sini.”
Dikatakan seperti itu oleh Taishi, Rudolph terlihat cemberut.
“Tapi..”
Taishi melihat ke arah 3 cewe yang lain, mereka semua tersenyum dan melihat ke arah raja lagi.
“Kita bakal melakukannya!”
“Beneran, Kalian mau?” jawab Rudolph
“Ya, kami selalu mau menjelajahi dunia, apalagi ini dunia fantasi yang asing.”
“Iya, malahan kita main game online bareng”
Benar
kata Chika, mereka berempat bermain game online bergenre RPG di dunia
asalnya. Mereka sering ngumpul dan berbicara tentang game, sama seperti
apa yang mereka bicarakan di kelas sebelum mereka dipanggil ke dunia
ini.
“Jadi, Kamu bakal nerima?” Tanya raja sekali lagi.
Shinobu yang menjawab pertanyaan raja sekarang.
“Ya, tapi dari yang aku lihat di <>, kita masih level 1, dengan kata lain, newbie, pemula.”
“Kita ga bisa ngelawan Raja Iblis kaya gini. Jadi.. aku minta kamu ajarin kamu cara bertarung.”
“Jangan khawatir, Hero…”
Saat itu, muncullah seseorang dengan armor.
“Aku yang akan mengajari kalian Hero. Nama saya Vale Kimble. Aku diberi kepercayaan oleh raja untuk mengajari kalian bertarung.”
“Dia adalah kapten divisi kedua pasukan kerajaan.” ucap Raja.
Vale
bisa dibilang lelaki tampan dengan muka bangsawan. Cuma dari melihat
bentuk tubuhnya saja, semua orang tahu betapa keras usahanya. Rambutnya
pendeknya berwarna hijau, dengan mata yang memberi perasaan orang yang
menatapnya kalau orang ini memiliki kekuatan hebat.
Naturalnya,
semua cewe yang ada disana memberi tatapan penasaran dengannya. Hanya
Chika yang melihat kearahnya dengan tatapan datar, seperti dia tidak
punya ketertarikan sama sekali.
“Dengan kata lain, dia yang bakal ngajarin kita?”
“Ya,
kebetulan sekarang sedang tidak ada masalah di perbatasan kerajaan. Aku
mau kalian semua tumbuh kuat sebelum ada masalah lagi.”
Diskusi berlangsung dan Taishi dan yang lainnya memutuskan akan bertarung. Saat itu, Hiiro mengangkat tangannya.
“Sori, tapi akumah bertindak sendiri dari sini.”
Waktu seakan berhenti kembali saat yang lain mendengar perkataan Hiiro.
“Sori,
aku ga kaya mereka berempat. Ya.. semenjak aku udah disini, aku mau
melakukan apa yang mau aku lakukan. Ini ga jadi masalah kan?”
Rudolph
terlihat cemas. Hiiro memang benar buka Hero, tapi Cuma manusia biasa.
Dia tidak terlihat kuat lagian. Rambut hitam, pupil berwarna hitam,
tinggi sekitar 1,8 meter, tidak terlihat berotot juga.
Dengan
penampilan seperti itu, sudah pasti dia tidak akan terlalu berguna
dalam pertarungan. Tapi tetaplah fakta kalau ia(raja disini) adalah yang
memanggil Hiiro kesini. Tak ada alasan baginya untuk menendang Hiiro
keluar.
“Mh-hmm… saya minta maaf untuk kasusmu. Apa ada yang bisa saya lakukan untuk menebus…”
“Ga ada.”
“Ga ada katamu?”
“Ya,
ini bukannya kaya aku benci sama kamu. Tapi gimana yah… dunia ini pasti
punya buku novel yang unik, jadi itu membuatku tertarik.”
Hiiro
juga lelaki. Dia pasti menginginkan petualangan. Itu ga perlu
petualangan hebat kaya jadi protagonist di buku, tapi dia tetap ingin
menjelajahi dunia ini.”
“Aku ga punya urusan lagi di sini, Dadah semua.”
Ucap Hiiro, tapi saat ia membalikkan badannya untuk pergi, Taishi memegang tangannya.
“Hey, bertindak ga bertanggungjawab, apa kamu masih menganggap dirimu sendiri lelaki hah?”
“Haahh?”
Jawab Hiiro karena merasa terganggu.
“Mereka
merendahkan kepalanya disana! Apa kamu ga punya perasaan kemanusiaan
apa? Apa kamu ga merasa mau ngebantu mereka sedikit hah?”
“Ga”
“KENAPA?”
“Karena aku bukan Hero. Atau kamu mau gunain aku sebagai perisai hidup?”
“Apa.. perisai hidup?”
Taishi melepas tangannya.
“Lupakan cowo itu Taishi.”
Ucap Chika dengan tatapan tajam.
“Bukannya kalian berdua juga setuju denganku?”
“Ehm… Akumah…”
Shuri hanya menundukkan kepalanya kebingungan. Shinobu menatap Hiiro tajam seperti Shuri, dan berbicara.
“Ahahaha,
iya, kenapa engga? Maksud aku, ini emang kaya game, tapi ini tetap
kenyataan. Dengan kata lain, kita mempertaruhkan nyawa kita disini. Kita
adalah Hero, jadi kita bakalan jadi kuat. Tapi beda sama Okamuracchi.
Dia cuma cowo biasa. Jadi dia ga guna ada disini juga.”
Perkataan
Shinobu membuat diam Taishi, Shuri, dan Chika. Perkataan Chika benar,
ini tetaplah kenyataan, mau segimana miripnya sama game RPG, orang-orang
mati untuk bisa memanggil mereka ke dunia ini. mereka berempat harus
serius mengenai masalah ini.
“I-iya. Kita Cuma harus ngelakuin ini sama kita sendiri aja.”
Taishi setuju dengan Chika. Hiiro yang tak tertarik, melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
“Uh-Uhm…!”
Pemilik suara itu adalah Lilith. Hiiro berhenti dan melihat kebelakang.
“Uhm… saya, saya minta maaf!” Lilith mengatakannya dengan ekspresi cemas. Hiiro lalu membalasnya.
“Ga usah peduliin itu.”
Dengan perkataannya, Hiiro pun meninggalkan istana saat itu.

Casino Review 2021 | MrCD
BalasHapusWith the casino on the 밀양 출장샵 way, players are looking for a casino that 군산 출장샵 delivers quality games. 삼척 출장마사지 The games on offer are fantastic, and with the 안성 출장안마 Rating: 3 · 제천 출장안마 Review by DrmD
joya shoes 794j9zwvoy793 joyaskodanmark,joyaskonorge,joyaskorstockholm,joyacipo,zapatosjoya,joyaschoenen,scarpejoya,chaussuresjoya,joyaschuhewien,joyaschuhedeutschland joya shoes 789i5wuggf207
BalasHapus