Senin, 24 Oktober 2016

Konjiki no Wordmaster (Indonesia) Chapter 17


Chapter 17: Pimpinan Perserikatan

Perserikatan menyediakan kamar untuk sedikit orang, tetapi karena suatu hal atau yang lain, mereka memiliki kamar yang bisa ditiduri untuk tiga orang. Rombongan itu pun lega bahwa perjalanan mereka tidak sia-sia.
Mereka diantar ke kamar dan kemudian merebahkan diri ke tempat tidur. Ini jelas lebih baik daripada tidur di luar.
"Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan dari sekarang?"
Tanya Arnold, yang kemudian dijawab Hiiro sambil menutup matanya.
"... Akan menjadi buruk kalau menyelinap di pos pemeriksaan kan?"
"Ya, kecuali jika Kau memiliki «Visa» resmi."
"Kau punya?"
"Ya, untuk Muir dan Aku."
"Bagaimana Kau mendapatkannya?"
"Tunggu dulu, Kau bahkan tak tahu itu? Bagaimana Kau ingin menyeberangi perbatasan? "
"Melalui pembicaraan supaya bisa lewat dan jika itu tidak berhasil ... melalui kekerasan."
"Menakutkan! Biasanya aku akan menertawakan kebodohanmu, tapi sekarang ketika aku mengetahui tentang sihirmu, rencanamu hanya terdengar menakutkan! "
Arnold takut bahwa ia akan menyeberangi perbatasan dengan mengalahkan para petugas perbatasan dengan «Word Magic»nya, karena kekuatannya lebih dari mampu untuk melakukan itu.
"Dengar, «Visa» dikeluarkan di Perserikatan. Lihatlah. "
Sambil berkata begitu, ia menunjukkan kepadanya secarik kertas yang sedikit lebih besar dari tiket kereta api. Tertulis di atasnya adalah tanggal dikeluarkan dan kadaluarsanya.
"Maka aku bisa mendapatkan satu di sini ..."
"Tidak, bahkan jika Kau mengajukan untuk mendapatkan satu di sini, dibutuhkan waktu yang cukup lama sampai itu disetujui."(TLN : 'You know' diakhir kalimat digunakkan untuk menekankan suatu pernyataan)
"... Serius?"
"Serius. Biasanya Kau mendapatkannya dari Perserikatan di ibukota negara. Dan bahkan kemudian, dibutuhkan sekitar satu minggu. Dalam kasusmu, Kau mengajukan permohonan itu di sini, kemudian Perserikatan di ibukota memverifikasi dan Kau hanya akan mendapatkan «Visa» setelah mereka menyetujuinya. "
Pertama-tama Kau mengajukan permohonan untuk itu, kemudian riwayat hidup dan tempat tinggal asalmu diselidiki. Tak perlu dikatakan, Kau tidak akan mendapatkan persetujuan ketika memiliki catatan kriminal. Tapi jika tidak ada masalah dan ada alasan yang tepat untuk menyeberangi perbatasan, Pimpinan Perserikatan memberikan persetujuannya dalam bentuk surat izin. Itulah yang namanya «Visa».
"Oho, jadi Pimpinan Perserikatan di ibukota merupakkan orang yang cukup penting?"
"Aku tak percaya kau mengatakan itu (TLN: Come again : Idiom)? Kau berada di ibukota, kan? Bagaimana kau tak tahu? "
"Aku tidak tertarik."
"... ..Hah. Dengar dan ingat baik-baik ini, Hiiro. Apa kau tahu berapa banyak adventurer peringkat SSS di antara manusia? "
"Tiga, kurasa?"
"Ya, dan salah satunya adalah Pimpinan Perserikatan di ibukota."
"Mm."
"Jangan cuma 'mm'!"
Itu sajalah reaksi Hiiro, karena ia tidak tertarik pada orang lain.
"Dia luar biasa.(TLN: "you know' diakhir kalimat untuk menekankan kalimat tersebut) Hanya orang-orang dengan kekuatan dan popularitas yang besar yang dipilih untuk posisi itu. Mereka bahkan mengatakan kemampuan fisiknya sama dengan beastman (TLN: 'Manusia Binatang/hewan' well, it goes without saying which one better). Benar-benar seorang monster. "
"Aku mengerti bahwa monster ini kalah dalam status dan prestise."
"H- Hei ... Memang dikatakan bahwa Pimpinan Perserikatan memiliki kekuatan sama dengan Raja dalam keadaan darurat, tapi ... tidakkah bicaramu keterlaluan?"
"Persetan."
"... .Haah. Pokoknya, namanya adalah ... "


"Mh? Oh, lama tak jumpa, Vale! "
"Memang cukup lama kita tak jumpa, Judom-sama."(TLN: '-sama' ditambahkan diakhir nama orang yang kita hormati, lebih tinggi posisinya atau orang yang berjasa pada kita)
Pria yang menyambut Vale, Kapten dari divisi kedua tentara «Victorias», dengan senyum yang murah hati adalah Judom Lankars.
Dia memiliki jenggot putih yang indah, tapi umurnya baru diakhir 40-an. Rambut putih yang dipangkas pendek merupakkan alasan lain yang menyebabkan dia kelihatan tua.
Ekspresi lemah lembutnya memberikan aura yang bahkan membuat anak-anak merasa nyaman. Namun sosoknya yang abnormal tampak jelas ketika berdiri.
Tubuhnya yang memiliki tinggi lebih dari dua meter dan lengan terlatihnya yang nampak keras dan kuat seperti baja.
Seluruh tubuhnya sangat berotot yang akan membuatmu berpikir bahwa pakaiannya akan robek dengan sedikit gerakan.
"Fuhaha. Berhentilah menggunakkan -sama. Kau sendiri sekarang adalah seorang kapten yang menonjol! "
Dia menepuk Vale di punggungnya sambil tertawa dengan senang hati. Meskipun itu seharusnya tepukan yang ringan, tapi untuk Vale rasanya seperti pukulan yang secara bertahap mengurangi HPnya(TLN : Health Point)
"* UHUK * Sa- Saya melihat bahwa Anda tidak berubah, Judom-sama."
Vale menunjukkan senyum bahagia sambil menggosok punggungnya.
"Jadi, ada apa? Sangat jarang bagimu untuk datang ke sini. "
"Saya datang ke sini untuk meminta bantuan dari Anda, Pimpinan Perserikatan."
Saat ini mereka berada di dalam Perserikatan, di ruangan Pimpinan Perserikatan.
"Oho, sesuatu yang merepotkan lagi? Lupakan saja, aku sudah pensiun. Biarkan garis depan untuk anak muda. "
"Apa yang Anda bicarakan? Sampai sekarangpun, tidak ada orang lain yang bisa menyamai (TLN: ‘hold a candle to’ = idiom) Anda sebagai seorang Adventurer! "
"Fuhaha! Kau memberiku terlalu banyak pujian! Selain itu, Aku mendengar bahwa para Hero telah dipanggil. ... Ini era mereka sekarang, iya kan? "
Judom bertanya dengan tatapan yang sedikit tajam, tapi Vale tidak menyadarinya.
"Tidak, tidak, orang yang kuat selalu diinginkan. Terutama seseorang sekuat Anda. "
Mendengar jawaban Vale, Judom memurungkan ekspresinya sedikit, tapi segera saja mencerahkannya lagi.
"Dan kukatakan, eraku telah usai. Dengan keadaanku sekarang, Aku hanya sebanding dengan peringkat SS. Aku tidak bisa bergerak seperti saat masih berada diperingkat SSS lagi. "
Judom berkata seperti sedang mencela diri sendiri dengan ekspresi mendalam.
"Anda terlalu merendah. ... Baru saja Anda mengatakan untuk meninggalkan garis depan untuk anak muda. "
"Ya, aku mengatakannya."
"Saya ingin meminta Anda untuk melatih para anak muda ini untuk berperang."
"... ..Para Hero?"
"Iya."
Untuk beberapa saat, mereka berdua saling menatap. Judom melihat Vale, yang berhadapan dengannya dengan tatapan yang bersungguh-sungguh, dan dengan samar-samar tersenyum.
"Tatapan yang sama seperti saat itu, ketika Kau meminta untuk menjadi muridku."
"Meskipun pada akhirnya Anda menolak saya. Pada saat itu Anda berkata kepada saya: Kau tak cukup baik untuk menjadi muridku. Aku hanya menerima seseorang yang dapat bertarung setingkat denganku. "
"Apakah Aku benar-benar mengatakan itu?"
Judom tersenyum, mengenang masa mudanya.
"Dan sekarang, orang yang bisa bertarung setingkat dengan Anda telah muncul."
"...... .Benarkah Begitu?"
Menghapus senyumnya, ia pun menjawab Vale.
"Tolong ajari mereka! Hal ini demi masa depan kita 'Humas'! "
"Untuk masa depan 'Humas', huh..."
Vale menatapnya dengan mata yang betekad, mata yang terus-terang. Judom mengambil pipa dan menyalakannya. Lalu perlahan-lahan ia mengembuskan asap.
"Hei, Vale."
"Iya?"
"Apakah kau tahu mengapa Aku menjadi Pimpinan Perserikatan?"
"Tentang itu ... Tidak, aku tidak tahu."
"Karena Pimpinan Perserikatan dapat memberikan perintah dengan otoritas yang sama seperti Raja dalam keadaan darurat."
"Judom-sama ...?"
"Ketika Aku masih seorang Adventurer, Aku selalu bertanya-tanya mengapa negeri ini, tidak, benua ini terus terlibat peperangan."
"..."
"Setiap hari Aku berdoa supaya ada seseorang yang akan membawa perdamaian ke dunia. Pengampunan oleh keyakinan(TLN: 'Salvation by faith', any other ideas?), begitulah kira-kira. Tetapi, perselisihan antara ras meningkat dan menyebar ke negara ini juga. Tentu saja aku mengangkat senjata, karena ada hal yang ingin kulindungi. Tapi, kau pikir apa yang Pimpinan Perserikatan lakukan pada saat itu? "
"... .."
Saat ia tahu jawabannya, Vale tampak merasa malu.
"Pimpinan Perserikatan pergi jauh. Dia meninggalkan negara ini. Menyalahgunakan kekuasaannya sebagai Pimpinan Perserikatan, ia melarikan diri untuk keselamatannya sendiri. Karena itulah, rantai komando para Adventurer hancur dan banyak nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan malah tewas. "
"Judom-sama ..."
"Rajalah yang sudah menunjuk Pimpinan Perserikatan itu."
Vale diam mendengar perkataannya. Raja telah bertanggung jawab karena menunjuk Pimpinan Perserikatan itu. Judom juga marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melihat karakter Pimpinan Perserikatan yang sebenarnya pada saat itu.
"Oleh sebab itu aku mati-matian untuk menjadi lebih kuat dan bercita-cita untuk menjadi Pimpinan Perserikatan. Lalu aku meminta kepada Raja untuk otoritas memerintah dalam keadaan darurat. Dan dengan demikian Pimpinan Perserikatan menjadi Raja lain untuk negara ini. "
"..."
"Aku mengincar satu-satunya posisi yang bisa memperbaiki kesalahan Raja. Itu adalah hal yang terbaik yang bisa kulakukan sebagai seorang Adventurer. Tapi ... "
Judom mengepalkan tinjunya frustasi. Vale melebarkan matanya melihat hal ini. Bahkan sampai sekarang, perintah Raja adalah mutlak. Tapi Pimpinan Perserikatan memiliki hak untuk memutuskan tentang segala sesuatu dalam keadaan darurat yang menyangkut para Adventurer.
Judom memberi Vale tatapan tenang dan dingin.
"Raja kemudian melakukan kesalahan lain."
"Wha! Bagaimana Anda bisa mengatakan itu! "
Vale terkejut tentang kritik mendadak tentang Raja. Berbicara lebih jauh akan menjadi penistaan.
"Raja mengorbankan tiga orang untuk apa? Tunggu, Aku rasa satu nyaris saja tewas. "
Kemudian ia melemparkan lirikan ke Vale, menyuruhnya untuk menjawab.
"I- Itu ..."
"Pemanggilan para Hero ... Tentu saja, negara kita berada dalam bahaya. Tapi Aku menyarankan Raja bahwa ada hal-hal lain yang harus dilakukan sebelum memanggil para Hero. "
"Anda melakukan hal seperti itu ...?"
Vale tidak tahu itu, sehingga ia mengerutkan kening padanya.
"Mengapa kita menolak perjanjian damai?"
"Perjanjian ... damai? Apa yang Anda bicarakan? "
"Mhm, Aku kira Kau tidak diberitahu. Yah, wajarlah. "
Judom menggeleng letih.
"Je-Jelaskan maksud Anda, Judom-sama!"
"Beberapa tahun yang lalu, seharusnya ada perjanjian damai dari 'evila'."
"Mustahil! Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu! "
"Para petinggi negara pasti sudah menutup-nutupinya(TLN : 'Swept it under the carpet'=idiom)."
Sambil meniup asap, Judom mengatakan begitu.
"T- Tapi tetap saja! Walaupun surat tersebut berasal dari 'evila', kita tidak bisa percaya itu! "
"Kenapa kita tidak berdialog?"
"..."
"Kau tidak tahu hasilnya kecuali kau mencobanya."
"Itu ..."
Vale mengerti betul bahwa itu adalah argumen yang masuk akal, sehingga ia tidak bisa membantah.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku juga tahu bagaimana mereka mengkhianati kita pada pertemuan sebelumnya yang dimulai juga melalui surat. Tetapi harus ada metode lain sebelum mengorbankan putri Anda sendiri, ya kan? "
"Y-Yang Mulia berduka tentang itu juga."
"Orang tidak hanya berduka atas kematian putrinya!"
Ekspresi sebelumnya yang lembut berubah total, berubah menjadi intensif dan mengerikan. Vale berkeringat di seluruh tubuhnya. Itu adalah semangat seorang Adventurer yang sudah pensiun ...
Judom menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimanapun, jika ia berkonsultasi denganku, Aku akan datang ke mana pun pertemuan itu digelar. Kau seperti banyak orang lain, mungkin tidak tahu, tetapi ada juga orang baik di antara 'Gabranth' dan 'evila'. "
"It- Itu tentu benar, tapi adalah juga fakta bahwa raja 'evila' mencoba untuk menghancurkan kita 'Humas'."
"Sebuah fakta?"
"Tentu saja!"
"Lalu kau tahu tentang ini?Raja 'evila' telah berubah. "
"... Eh?"
"Ketika Raja berubah, begitu juga kebijakannya. Surat itu dikirim oleh Raja Baru. Namun demikian, Raja mengabaikan saranku dan memanggil orang asing dari dunia lain. "
"Memanggil mereka orang asing ... Demi kepentingan kita, para Hero-"
"Mempertaruhkan hidup mereka ...?"
"..."
"Aku tidak tahu dari dunia apa mereka berasal, tapi kurasa mereka tidak cukup peduli tentang dunia kita sehingga mempertaruhkan hidup mereka untuk itu. Jika Aku berada di posisi mereka dan tiba-tiba dibawa ke sini yang berlawanan dengan kehendakku, Aku akan meninggalkan segalanya dan pergi bertualang. "
Itu persis apa yang Hiiro lakukan, tapi Vale terkejut karena perkataan Judom dan diam tak bergerak.
"T- Tapi para Hero serius ..."
"Mereka hanya belum menghadapi situasi hidup atau mati. Tidak banyak yang pulih setelah mencicipi keputusasaan. "
"... .."
"Mereka punya rumah juga, kan? Sebagai orang yang memanggil mereka ke sini, Raja harus memastikan mereka kembali hidup ... iya kan? "
Vale melihat ke bawah dan memejamkan mata.
"Dari apa yang kudengar, ada orang lain yang dipanggil, tapi ia pergi karena dia tidak punya alasan untuk patuh?"
"Ah, ya."
"Aku bisa percaya orang itu lebih dari Para Hero."
"Ap- Apa maksud Anda?"
"Ketidak tahuanmu itu menunjukkan bagaimana Kau masih kurang pengalaman, Vale."
"Judom-sama ..."
Kemudian Judom menunjukkan ekspresi lembut lagi, menempatkan pipanya di atas meja.
"Pembicaraan kita sudah selesai, Vale."
"T- Tapi!"
"Pikirkan sekali lagi tentang apa yang harus Kau lakukan. Sekarang giliranmu untuk memberi saran ke Raja. "
"Saya tidak pernah bisa ..."
"Bagaimana seseorang bisa menyelamatkan dunia, ketika saran dari teman atau pelayannya diabaikan?"
Setelah itu Judom tidak mengatakan apa-apa lagi dan Vale meninggalkan ruangan keheranan.

Konjiki no Wordmaster (Indonesia) Chapter 16

chapter 16 : Raer Festival
“… <Burning Peach Candy>?” (TLN : Nama toko g ditranslate)
Hiiro bergumam sambil melihat tanda dari toko tersebut.
“Oh, mereka menjual buah yang cukup langka!”
“Halo, silahkan mendekat kemari!”
Pemilik kios, seorang pak tua bersemangat yang memancarkan keramahan. Muir menatap <Burning Peach Candy> yang dipajang dikios dengan mata yang bersinar-sinar.
“Pak tua, beri kami 3 buah!”
“Dengan senang hati! Oh, nona kecil yang manis, oleh karena itu aku akan memberimu yang ekstra besar!”
“T-Terima kasih… ehehehe.”
Muir memperlihatkan sebuah senyum bahagia.
“Apa itu enak?”
“Iya, tentu saja. Buah ini dibentuk seperti api yang membara dan walaupun sudah menjadi permen, dia cukup lunak untuk dikunyah. Kau akan mengerti sendiri betapa membaranya buah ini ketika sudah mencicipinya.”
Diberitahu begitu, Hiiro makan sesuap. Memang benar dia bisa menggigitnya dengan mudah dan cita rasanya menyebar dimulut ketika dia mengunyahnya. Tiba-tiba sesuatu meletus didalam mulutnya.
“Mmhh”
“Hehe, terkejut? Rasa geli dilidah adalah rahasia dari <Burning Peach>!” (TLN: “Persik Membara’ kalau dalam bahasa Indonesia,)
Cita rasa ini memang membuat kecanduan. Begitu manis, tetapi sesuai dengan selera kita. Pasti ini terkenal diantara anak-anak. Muir pun memegang pipinya dengan ekspresi terpesona.
“Baiklah! Yang berikutnya!”
Arnold pergi memimpin didepan dengan dua orang lainnya mengikuti dibelakang.
(Jadi ini yang namanya festival. Kalau ada makanan enak, tidak begitu buruk)
Hiiro tidak pernah pergi ke festival ketika masih di Jepang, jadi dia cukup tenggelam dalam pengalaman barunya. Walaupun, sudah menjadi sifatnya yang berharap keramaian ini tidak berada disini.
Banyak kios yang mirip seperti di Jepang, seperti arena menembak atau mencabut lotere. Muir begitu menikmatinya, tetapi setelah berjalan beberapa lama, kapasitas mental Hiiro mulai mencapai akhir.
(Aw, sungguh menyebalkan, orang-orang berbenturan denganku dan juga menginjak kakiku… Bisakah mereka menghilang?)
Pikirannya mulai menjalar kearah yang berbahaya. Ketika kemudian dia melihat ke kios yang agak besar. Tanda kios tersebut berbunyi:
<Happines Shark Sandwich> (TLN: ‘Sandwich Hiu Kebahagian’)
Arnold, melihat kearah tanda yang sama, memperlihatakan keterkejutannya.
“T-Tidak mungkin… Itu Happiness Shark?’ (TLN: Hiu Kebahagiaan)
“Kau tahu itu?”
“Tentu saja! Itu adalah bahan yang ingin diolah setiap juru masak walau hanya sekali!”
Dilihat dari ekspresi kegembiraannya, Hiiro menduga itu adalah sesuatu yang sangat lezat.
“Dengar baik-baik, Happiness Shark hanya hidup di <Great Bull Sea> (TLN: Laut Banteng Besar). Terlebih lagi, dia hanya hidup ditempat paling dalam, jadi dia sangat jarang muncul kepermukaan. Kejadian itu sungguh sangat jarang, tetapi dia muncul sementara untuk menaruh telurnya. Badannya memiliki warna merah muda dan sebuah tanduk berwarna hijau giok di kepalanya. Dikatakan bahwa setiap bagian tubuhnya, entah itu tanduk atau taringnya bisa dimakan!”
Arnold menjelaskan dengan bersemangat, tetapi Hiiro pada dasarnya tidak tertarik dengan binatang, sehingga penjelasannya masuk lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan.
“Jadi, ini lezat?”
“tentu saja! Dengarkan baik-baik, cita rasanya dikatakan… berada diatas “Aqua Hound Meat’!”
“Beli itu. Sekarang.”
Dalam sekejap, wajah Hiiro berubah seperti memancarkan niat membunuh.
“t- tentu, tetapi.”
“Apa?”
“Lihat disana.”
“Mh.”
Arnold menunjuk ke tabung lotere seperti yang sering terlihat di pertokoan.
“Mereka memiliki stok yang terbatas…Jadi kau harus menang untuk makan.”
“Apa katamu?”
Rasa gemetar menjalar diseluruh tubuhnya. Datang kesini dan tidak dapat memakan makanan lezat?
Hiiro pun menggigit bibirnya karena siksaan ini.
“Setiap orang memiliki satu kesempatan dan kelihatannya beberapa telah menang… Oh, kelihatanya mereka hanya punya enam piring lagi.. Antriannya juga cukup panjang, kurasa kita tidak beruntung.”
Hiiro mengepalkan tanganya frustasi ketika melihat Arnold sudah menyerah.
( Tunggu dulu. ‘Aqua Hound Meat’ sangat mengagumkan. Tetapi aku tak bisa memakan makanan yang yang lebih enak tepat didepanku? Bagaimana mungkin itu terjadi… Tidak, kata menyerah tidak ada dalam kamusku)
Hiiro mengangkat wajahnya dengan sentakan dan melotot kearah kios tersebut.
“Izinkan aku memberikan rasa terima kasihku, pak tua.”
“Huh?”
“Rasa terima kasihku karena telah menunjukan ini.”
“Dengan senang hati, tapi kau tak bisa memakannya..”
“Tidak, tidak ada alas an untuk menyerah.”
Dia melihat kearah orang-orang yang memutar tabung lotere. Tampaknya, kau menang apabila bola emas yang keluar.
(Kalau begitu…)
Dia mengkonsentrasikan kekuatan sihir diujung jarinya.
“Tunjukan tangan kalian berdua!”
“…Eh…”
Mereka berdua menatap kosong.

Antrian didepan lotere perlahan-lahan menjadi pendek. Dengan beberapa kemenangan, sekarang tinggal 3 porsi yang tersisa.
Tetapi untungnya tidak ada lagi yang menang sejak itu. Dan akhirnya…
“Giliranku.”
Hiiro mendapat gilirannya. Dia menelan ludah dan perlahan-lahan memutar tabungnya. Tabung pun berdentang dan kemudian…

PLOP

Semua orang menelan ludahnya. Bola yang keluar adalah…


“FUAHAHAHAHAHA! Tidak ada yang tak mungkin buatku!”
Hiiro tertawa terbahak-bahak secara berlebihan. Ya, dia mendapat bola emas dengan sempurna. Dan sebuah kata bercahaya pucat tertulis di tinjunya yang diangkat tinggi ke udara. Berbunyi… “Sangat beruntung”.  Dia sudah kuatir atas apa yang akan ditulis. Kata "beruntung" bisa saja juga bekerja, tapi dia tidak yakin apakah peruntungannya akan meningkat atau menurun melalui itu. Lalu, bagaimana kalau "keluar" ? Sebuah bola pasti akan keluar, tapi belum tentu yang emas. Oleh karena itu ia menulis "sangat beruntung", karena ia bisa dengan mudah membayangkan menjadi beruntung melalui itu. Sihir berarti imajinasi. Setiap pikiran yang tidak perlu akan mengurangi kekuatannya. Jadi dia memilih kata yang mudah dibayangkan "sangat beruntung". Sihirnya benar-benar seperti cheat.(TLN: Gamer mesti tau yg dimaksud cheat disini. Lol)
Selain itu, sihirnya rangkap tiga. Dia telah menulis kata yang sama untuk dua orang lainnya, karena itu meningkatkan kemungkinan menang salah satu dari mereka menjadi lebih besar. Namun, itu berarti membongkar sihirnya kepada mereka. (Yah, tidak ada yang kusesali. Ini untuk makanan tentu saja) Nafsu makannya menang atas masalah karena sihirnya terbongkar. Akibatnya, mereka bertiga menang berturut-turut. Tentu saja mulut dua orang lainnya menganga lebar-lebar karena kejadian ini, tapi Hiiro mempertimbangkan menjelaskan kepada mereka karena ia dalam suasana hati yang benar-benar baik.
"H- Hei, Hiiro ...?"
"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan, tapi untuk saat ini ... makan!"
Di tangannya terdapat hidangan seperti hamburger. Isinya tentu saja adalah "Happiness Shark". Dia memiliki warna merah muda dan dibungkus dalam beberapa sayuran seperti selada dengan saus asin-manis.
"Munch .... Ohh !? "
Dimana aku? Untuk sesaat, ia merasa seperti berada di dalam laut dengan tekanan laut dalam meremas tubuhnya. Sungguh sebuah cita rasa yang kaya. Kecocokannya dengan roti sangat luar biasa dan hanya dengan satu gigitan membuat dia merasakan jiwa lautan.
Tubuhnya mencair dari stimulasi pada lidahnya, bukan, di dalam seluruh mulutnya. Selain itu, ia merasakan sesuatu yang renyah. Itu adalah tanduk yang disebutkan Arnold sebelumnya.
Lezat. Tulang muda goreng dengan bumbu berkualitas tinggi juga, sungguh tak terlukiskan kelezatannya. Tubuhnya segera mencerna segalanya, bahkan tulang dan taring.
(Astaga. Siapa yang tahu kalau sesuatu yang begitu lezat ada!).
Rasanya lebih lezat dari semua ikan yang pernah ia makan sebelumnya. Bagian dalam perutnya bergerak-gerak, seolah-olah makanannya masih hidup. Barang yang benar-benar bagus(TLN : “It was earth-shattering good” =Idiom). Selain itu, tubuhnya merasa seperti dipenuh dengan kekuatan.
Wow ... Hanya wow ...
(Benar-benar ... sebuah kemenangan ...)
Pipinya secara alami mengendur. Dia mungkin jatuh tertidur di tempat karena perasaan suka cita, jika ia bersantai. Ini adalah sensasi/perasaan yang benar-benar menyenangkan, seperti dia sedang berenang santai di laut di bawah sinar matahari yang hangat. Ketika ia melihat dua orang lainnya, Muir juga sedang menikmati makanannya. Dia kelihatannya juga suka makan, jadi dia dalam suasana hati yang baik karena dapat memakan sesuatu yang begitu lezat. Adapun Arnold ... Dia menangis untuk beberapa alasan.
Jujur saja, itu bukan pemandangan yang menyenangkan ketika melihat orang tua menangis karena makanan. Nah, makanannya memang pantas untuk ditangisi, tapi agaknya itu merusak suasana, sehingga Hiiro memutuskan untuk memukulnya setelah itu.
"Oh ~ Aku merasa penuh! Penuh tak terkira ~ "
Arnold tersenyum dengan gembira.
"Ya, itu lezat. Ehm ... begini ... "
Muir melihat ke arah Hiiro.
"Uhm ... Th- Terima kasih."
Tampaknya ia ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya. Hiiro menjawab dengan sederhana "Tidak masalah", tapi ini memicu Arnold untuk bertanya tentang «Word Magic».
"Jadi, akankah kau cerita tentang apa yang kau tulis di telapak tanganku sebelumnya?"
"... ..Baiklah."
"Eh? Kau benar-benar akan memberitahuku? "
Arnold mengira ia akan menolak lagi, jadi dia balik bertanya secara refleks.
"Apa? Aku bisa menyimpannya untuk diriku sendiri kalau begitu. "
"Ah, tidak, tidak. Biarkan aku mendengarnya! Kata itu ... Apakah itu sihirmu? "
"Ya, itu disebut «Word Magic». Sihir unik. "
"Sebuah sihir unik !?"
"Kau terlalu keras! Aku tak akan menceritakan lebih banyak! "
"M- Maaf. T- Tapi apakah itu benar-benar sebuah sihir unik? "
"Ya. Lihat kata pada telapak tanganmu? "
"Y -Ya."
"Itu kata dari tempat tinggalku dan aku bisa menarik keluar efek dari kata tersebut."
Dunia ini tidak tahu Kanji, sehingga mereka berdua tidak bisa membacanya, jadi ia terus terang menjelaskan sihirnya. Keduanya mendengarkan dengan ekspresi tercengang.
"Sesungguhya, bukankah sihirmu curang?"
"* Mengangguk *"
Muir mengangguk menegaskan kata-kata Arnold.
"Peduli amat. Ini seperti bakat bawaan. "
"Yah, tentu, tapi ... Tetap saja, aku pernah mendengar sihir unik, tetapi tidak sekuat ini."
"Oho, seperti apa misalnya?"
Hiiro tertarik pada sihir unik selain miliknya sendiri.
"Coba kupikirkan, sihir yang mengendalikan ruang, sihir yang mencuci otak orang-orang dan ... sihir yang memanipulasi sihir lainnya."
"Mereka memang terdengar kuat."
Terutama yang bisa mencuci otak, terdengar berbahaya. Dia tidak tahu bagaimana cara kerjanya, tapi sihir yang dapat menyihir hati orang lain terlalu kuat.
"Tapi dengan «Word Magic» mu, kau dapat menggunakan semua sihir yang ku sebutkan,iya kan?"
Sejujurnya, dia bisa. Mungkin dia tidak bisa mengendalikannya sesempurna aslinya, tapi itu mungkin untuk menggunakan kata dengan efek yang sama.
"Memang, aku bisa."
"Aku sudah menduganya, sangat tidak adil ~ Kau cheater(TLN: Gamer ngertilah) sialan ~"
"* Mengangguk *"
"Sihirku mungkin paling kuat, tapi tidak tak terkalahkan."
"Apa maksudmu?"
"Siapa tahu? Aku tidak punya alasan untuk memberitahumu. "
"Grr ... Nah, kau bukan orang bodoh yang akan memberitahu orang lain kelemahanmu."
"Memang."
"Tapi kesampingkan itu dulu, sihirmu masih terlalu menarik! Benar-benar surgawi! "
"Terserah. Aku lelah, aku akan ke penginapan. Dan juga, jangan beritahu siapa pun tentang hal ini. "
"Dengarkan aku!"
Hiiro bertindak semaunya sendiri seperti biasa, sedangkan mereka berdua mengeluarkan nafas panjang dan mengikutinya.
"Mh? Sudah cukup festivalnya? "
"Eh? Ah, ya, aku puas ... "
"Aku juga bersenang-senang!"
"Ya begitulah."
"kalau begitu pergi pesan sebuah kamar, pelayan."
"Aku ulangi lagi, tapi aku bukan pelayanmu! Dan juga, hormati orang yang lebih tua darimu! "
"Jangan sombong hanya karena kau lahir lebih dulu."
"Karena itu membuatku mempunyai pengalaman hidup yang lebih! Minta maaf! Minta maaf padaku segera! "
Hiiro menatap Arnold yang tiba-tiba berteriak dan berkata.
"...... Jangan menjadi seperti dia, pendek."
"Apa maksudmu, kau bocah sialan!"
Hiiro mengalihkan pandangannya ke Muir, tapi Muir bingung bagaimana harus bereaksi.
Mengabaikan teriakan menjengkelkan dari Arnold, Hiiro menuju ke penginapan. Tapi terjadi masalah di sana.
"... .Eh? Tidak ada kamar kosong? "
Arnold membuka mulutnya lebar-lebar di resepsionis. Di belakangnya, Hiiro memancarkan aura tidak senang sampai maksimal.
"Saya meminta maaf sedalam-dalamnya. Dikarenakan festival, pada saat ini kami tidak memiliki kamar kosong."
Apa yang harus dilakukan sekarang? Arnold sangat gugup(TLN: Sweated bullet=idiom), bertanya-tanya bagaimana cara menjelaskan kepada iblis di belakangnya yang memelototinya dengan niat membunuh.
Arnold dengan perlahan dan diam-diam menoleh dan menatap anak laki-laki berambut hitam yang bersangkutan.
"Apa masalahnya, pak tua?"
"Tidak ada yang bisa ku lakukan di sini, iya kan? Ketika mereka sudah habis dipesan, mau bagaimana lagi. "
"... .Hah, Tidur di luar meskipun kita berada di kota ..."
Hiiro bergumam dengan tatapan kosong merupakkan pemandangan yang langka. Sejujurnya, ia berharap untuk tidur di tempat tidur yang layak setelah berkemah di luar begitu lama, tapi sedih juga, itu adalah mimpi yang tidak tercapai.
"Sial ...festival bodoh ... Meledak saja sana."
Dia mengatakan sesuatu yang mengerikan, tapi ia menikmati festival itu sendiri, jadi dia tidak membentak-bentak dengan serius. Mereka seharusnya memesan kamar terlebih dahulu. Tidak, bagaimanapun juga,semua kamar mungkin sudah habis dipesan, tapi dia menyesal tidak memeriksanya.
"Permisi ..."
Pengurus penginapan yang berada di resepsionis memanggil mereka, sehingga mereka bertiga menatapnya dengan putus asa.
"Jika saya bisa menyarankan, kenapa Kalian tidak mencoba ke Perserikatan?"
"Perserikatan?"
Arnold memiringkan kepalanya.
"Ah, ya. Perserikatan mempunyai tempat istirahat untuk staf mereka, tetapi jika kalian berbicara dengan mereka, mereka mungkin memberikanmu kamar? "
Setelah itu, ekspresi Arnold menjadi lebih cerah dan dia mengangguk.
"Aku mengerti. Pada hari seperti ini, mereka mungkin memberi kita kamar. "
"Apakah kita pergi ke sana?"
Muir menatapnya dengan menengadah dan Arnold meletakkan tangannya di atas kepalanya.
"Ya, itu harapan terakhir kita."
"Aku berharap itu tidak akan sia-sia."
"Bocah! Kenapa kau mengatakan itu! Jangan terlalu negatif! "
"Ayo cepat."
"Sekali lagi, dengarkan aku!"
Hiiro dengan cepat meninggalkan penginapan, sedangkan kedua orang lainnya mengikutinya terburu-buru.

Konjiki no Wordmaster (Indonesia) Chapter 15

Chapter 15: Para Hero Mendengar Rumor tentangnya




“Aw, bahuku kaku sekali”

Yang menggerakkan bahunya kelelahan adalah salah satu hero yg dipanggil ke <Victorias>, Taishi Aoyama (TLN: Last name orang Jepang biasanya di taruh didepan, jadi namanya di Jepang jadi Aoyama Takashi). Disebelahnya berdiri ketiga hero yang lain yang juga kelihatan kelelahan.

Captain divisi kedua dari tentara, Vale Kimble, berdiri didepan mereka sembari melihat mereka berempat.

“Kerja yang bagus. Pekerjaan kali ini cukup bermanfaat lagi.”

Pekerjaan mereka adalah untuk memburu Stinger Bats yang ada di Gua Droke <Droke Cave>. Pekerjaan ini dilakukan karena populasi mereka sudah terlalu besar dan akhir-akhir ini mereka mulai menyerang kota.

Lebih dari itu, sejak Demon yang beracun juga tinggal di <Droke Cave> dan pijakan juga buruk di kegelapan, pekerjaan ini diberi ranking yang cukup tinggi, yaitu C.

Tetapi, mereka berempat mempunyai level yang tinggi dan kerjasama tim yang sangat bagus, sehingga mereka dapat memburu lebih dari seratus Stinger Bats. Seharusnya itu bisa menyelesaikan masalah, oleh karena itu mereka kembali ke kastil.

“EXP dari semua Demon(TLnote: Demon disini maksudnya monster, bukan Evila) sungguh sangat bernilai”

Ketika Taishi berkata itu, semua menganggukan kepala sebagai respon.

“Iya, dan kita juga menemukan beberapa celah dalam kerjasama kita, sehingga kita bisa memperbaiki itu mulai sekarang.”

Chika Suzumiya menyeka keringatnya dengan handuk.

“Kalau begitu kita lihat <Status> kalian sekarang.”

Mereka melihat status mereka seperti yang diperintahkan Vale.



Taishi Aoyama

Level 23

HP 120/406

MP 89/370

EXP 7200

NEXT 987

ATK 212 (263)

DEF 195 (210)

AGL 130 (137)

HIT 152 (158)

INT 119 (122)

<Atribut Sihir> Api, Angin, Petir, Cahaya

<Sihir> Fireball (Api, Serangan)

Fire Lance (Api, Serangan)

Wind Cutter (Angin, Serangan)

Cyclone (Angin, Serangan)

Thunder Shock (Petir, Serangan)

Thunder Break ( Petir, Serangan)

Lightning (Cahaya, Efek)

Light Arrow ( Cahaya, Serangan)

<Gelar> Hero, Penjelajah Dunia, Pencipta Harem, Yang Terbangun



Chika Suzumiya

Level 23

HP 134/373

MP 65/340

EXP 7200

NEXT 987

ATK 200 (250)

DEF 200 (210)

AGL 140 (155)

HIT 145 (148)

INT 120 (128)

<Atribut Sihir> Api, Tanah, Es, Cahaya

<Sihir> FireBall ( Api, Serangan)

Fire Lance ( Api, Serangan)

Grave ( Tanah, Serangan)

Earthquake ( Tanah, Serangan)

Ice Needle ( Es, Serangan)

Ice Tornado ( Es, Serangan)

Lighting ( Cahaya, Efek)

Light Arrow ( Cahaya, Serangan)

<Gelar> Hero, Penjelajah Dunia, Ratu Olahraga, Yang Terbangun



Shuri Minamoto

Level 23

HP 200/310

MP 29/530

EXP 7200

NEXT 987

ATK 107 (119)

DEF 110 (121)

AGL 130 (135)

HIT 118 (120)

INT 200 (215)

<Atribut Sihir> Angin, Air, Cahaya

<Sihir> Wind Cutter (Angin, Serangan)

Green Bind (Angin, Bantuan)

Water Wall (Air, Bantuan)

Bubble Shot (Air, Serangan)

Heal (Cahaya, Pemulihan)

Antidote (Cahaya, Pemulihan)

Charge (Cahaya, Bantuan)

<Gelar> Hero, Penjelajah Dunia, Yamato Nadeshiko (TLN: Kalau diartikan di Indonesia mungkin semacam “Wanita Idaman”), Yang Terbangun



Shinobu Akamori

Level 23

HP 90/342

MP 34/500

EXP 7200

NEXT 987

ATK 115 (127)

DEF 113 (124)

AGL 165 (170)

HIT 120 (122)

INT 207 (222)

<Atribut Sihir> Air, Petir, Cahaya

<Sihir> Mist (Air, Bantuan)

Aqua Spiral (Air, Serangan)

Paralize ( Petir, Efek)

Acceleration (Petir, Bantuan)

Heal (Cahaya, Pemulihan)

Cleaning (Cahaya, Pemulihan/Bantuan)

Ray (Cahaya, Serangan)

<Gelar> Hero, Penjelajah Dunia, Yang selalu Ingin Tahu, Yang Terbangun



(Kelihatannya semua bagus, tetapi aku bisa tanpa gelar Pencipta Harem) (TLnote Atiri: Entah kenapa aku benci kalo dia yang harem, kalo Hiiro sih oke :3 )

Taishi tidak terlalu puas dengan gelarnya sendiri, karena dia tidak punya satu pun ingatan tentang dia membuat harem.

“Apa yang membuatmu melamun, Taishi?”

“Eh? Ah, tidak apa-apa! Ahaha!”

Dia terkejut ketika Chika tiba-tiba memanggilnya, karena tidak mungkin dia bisa menceritakan kepadanya tentang gelarnya itu.

“Orang aneh. Ngomong-ngomong, kita bertambah kuat.”

“Iya, kerja keras kita terbayar.”

“Yep, Shuricchi benar. Kita harus tetap meneruskan seperti ini.”

“Iya, kau benar.”

Vale juga mencerahkan ekspresinya dengan senang.

“Akan tetapi, aku sangat lelah hari ini”

“Ya ampun, Taishi, kau begitu ceroboh.”

Chika memperingatkan Taishi yang sedang merebahkan diri ke tanah.

“Hari ini saja. Ah, ini mengingatkanku, Vale apakah terjadi sesuatu yang tidak biasa akhir-akhir ini?”

“Sesuatu yang aneh? Coba kupikirkan…”

Vale meletakan tangannya di keningnya dan terlihat merenung.

“Sekarang karena kau menyebutkannya, beberapa buronan tertangkap di “Ames” beberapa hari yang lalu.”

“Aku rasa “Ames” adalah desa yang berada disebelah barat dari sini.”

Vale Mengiyakan pertanyaan Shinobu dengan anggukan.

“Iya.”

“Dan juga buronan yang tertangkap cukup terkenal kan?”

“Iya, ‘Kakak Adik Harios’. Mereka adalah adventurer (TLN: Adventurer disini adalah suatu pekerjaan yang berbahaya dan mendapatkan hadiah ketika mereka berhasil menyelesaikan pekerjaannya, jadi tidak ditranslate menjadi ‘Petualang’) jahat yang melakukan pembunuhan dan juga pencurian. Meskipun mereka telah dihilangkan gelar adventurernya ketika kejahatan mereka mulai terungkap. Jadi menyebut mereka bekas adventurer terasa lebih tepat.”

“Hmm, jadi kedua orang itu telah tertangkap?”

“Benar dan pernyataan dari penduduk desa agak rancu.”

“Apa maksudmu?”

Semuanya, tidak hanya Shinobu, dengan penasaran memperhatikan Vale.

“Semua penduduk desa mengatakan bahwa seorang Hero memakai jubah merah datang menolong mereka ketika ‘Kakak Adik Harios’ membuat onar di desa.”

“Jubah merah? Seorang hero? Apa yang?”

“Dari yang aku tahu bahwa dia memiliki rambut hitam, menggunakan sihir yang dapat memanjangkan pedangnya dan memiliki kekuatan yang dapat membuat lawannya pingsan hanya dengan sentuhan.”

“Rambut hitam… jangan-jangan?”

“La-Laporannya juga menyebutkan kalau dia memiliki sikap yang egois.”

“Rambut hitam dan egois?”

Shinobu melihat ke muka semua orang dan ternyata mereka teringat tentang orang yang sama. Tetapi mereka percaya telah terjadi kesalahan.

“Tidak…. Tidak mungkin dia. Dia mengatakan sendiri kalau dia hanyalah orang biasa.”

“Dia tidak akan pernah membantu orang lain dengan kepribadiannya yang abnormal.”

“Hahaha, itu terlalu berlebihan, Chika.”

“Hhm… tetapi, aku bertanya-tanya apa yang benar. Sebenarnya, dimana dia berada sekarang?”

Tidak ada yang tahu jawaban tentang hal itu. Vale juga menggelengkan kepalanya.

“Baiklah, hanya memikirkannya saja tidak akan membuat kita kemana-mana. Kita akan melakukan apa yang bisa kita lakukan!”

Kata Chika menyemangati semuanya. Mereka menggangguk sebagai jawaban.



Kelompok Hiiro sampai ke “Surge”, sebuah kota yang dekat dengan perbatasan, tetapi sebuah kejadian yang tak terduga terjadi disana.

“Hey, apa maksudnya ini?”

“Aku tidak tahu…”

Hiiro dengan muka masam mengerutkan keningnya sementara Arnold yang berada disebelahnya hanya bisa mengejangkan otot pipinya.

Sekumpulan besar orang telah membangun kios dan menarik pengunjung didepan mereka. Hiiro, yang tidak suka keramaian, menjadi sangat jengkel dengan kumpulan orang banyak ini yang menyebabkan suasana menjadi mempesona.

“M..Mungkin sebuah festival.”

Muir mencodongkan kepalanya dengan cantik dan matanya terlihat bersinar-sinar. Deretan toko yang sangat panjang mungkin sudah memikatnya.

“Tunggu dulu, bukankah hari ini hari pertama dari ‘Urui’?”

“Benar, Paman.”

Ngomong-ngomong, ‘Urui’ mengacu pada nama bulan.



Januari:Nalwine

Februari:Nunui

Maret:Guweron

April:Guviris

Mei:Losron

Juni:Norui

Juli:Kelves

Agustus:Urui

September:Ivanness

Oktober:Nalbress

November:Hisui

Desember:Grisron



Itu semua adalah nama-nama bulan di dunia ini yang masing-masing terdiri dari 28 hari.

Ngomong-ngomong, tahunnya disebut “Anol”, sampai sekarang sudah ada “214 Anno Anol”.

“Memangnya apa istimewanya hari ini?”

“Kau tak tahu Hiiro? <Festival Raer> dirayakan hari ini.”

“<Festival Raer>?”

Dunia ini juga mengenal musim.



Spring:Esuil

Summer:Raer

Autumn:Jarvas

Winter:Riu

“Sekarang ini adalah musim ‘Raer’. Untuk mengurangi hawa panas ini, mereka menyelenggarakan event ini disini dan disana.”

(Oh, begitu. Cuma festival musim panas)

Ketidaknyamanannya hanya bertambah ketika menyadari itu. Dari awal hari ini sudah terasa panas, ditambah lagi ada laki-laki yang sangat menjengkelkan disampinya dan yang paling parah adalah keramaian ini yang hanya menambah minyak ke dalam api. Hal ini sungguh sangat menjengkelkan.

“Hey, bukankah kau sedang berpikir sesuatu yang sangat tidak sopan?”

“Aku? Tidak. Aku hanya berpikir kalau kau sangat menjengkelkan pak tua.”

“Dengarkan aku! Bisakah kau menyangkalnya, bahkan walau harus berbohong? Mengapa  kau harus menjawabnya secara jujur, sialan!”

“Itulah yang menyebabkan kau sungguh menjengkelkan.”

“Jujur saja, salah satu dari beberapa hari ini….”

Dia mengepalkan tinjunya yang gemetar. Pada saat itu, pandangan Arnold jatuh ke Muir. Wajahnya memerah dan dia sedang melihat ke arah keramaian.

“…Baiklah, aku sudah memutuskan! Katakan apa saja yang kau mau, tetapi sudah kutentukan!”

“Apa maksudmu tiba-tiba berkata seperti itu? Apa akhirnya kau sudah tidak waras?”

“Diam!”

Muir juga mengedipkan matanya karena bingung.

“Kita malam ini menginap disini kan? Kalau begitu, sekailan kita menikmati festival ini!”

Seiring dengan pernyataan ini, Ekspresi Muir terlihat bertambah penuh energy. Dia terlihat senang. Sebenarnya, dia ingin berkeliling di festival ini, tetapi khawatir sebab dia tidak bisa menyuarakannya secara gamblang.

“Begitu ya. Selamat menikmatinya, kalian berdua. Aku ada dipenginapan.”

“Tunggu dulu.”

Hiiro mencoba untuk pergi, tetapi ada yang menahan bahunya.

“Lepaskan.”

“Tidak…tidak… Bagaimana kau bisa bersikap begini? Ayo kita nikmati festival ini.”

“Tidak tertarik.”

“Hmm, yakin kau ingin bersikap seperti itu?”

“… Apa maksudmu?”

Arnold mengacungkan satu jarinya dan menyerengai. Hiiro merasa ingin menghajarnya karena sikapnya ini tetapi dia menahannya.

“Dengarkan, <Festival Raer> di ‘Surge’ cukup besar.”

“….”

“Terdapat banyak toko, terlebih lagi ada sebuah kios terkenal disini.”

Bahu Hiiro mengejang ketika mendengar kata terkenal yang menarik minatnya.

“Sebagai tambahan, mereka mengadakan kompetisi untuk melihat siapa kios yang paling terkenal di ‘Surge’. Kios makanan selalu menang setiap tahun… kau mengerti apa yang kumaksud kan?”

“…. Tentu saja. Mereka menyediakan makanan yang sangat enak?

“Kurasa kau akan sangat puas.”

“hhmm.”

Pengetahuan Arnold sangat bagus. Kelihatannya ini bukanlah yang pertama kali baginya di festival di kota ‘Surge’. Dia kelihatanya juga tidak berbohong, atau punya alas an untuk itu.

Lalu, dengan umpan dalam bentuk makanan lezat menyebabkan Hiiro berjalan didepan mereka berdua.

“H..Hey”

Arnold terlihat kecewa, berpikir kalau bujukannya gagal, tapi Hiiro berkata tanpa melihat kebelakang.

“Tunjukan jalannya cepat. Bagaimana kalau kita kehabisan barang yang bagus, mesum!”

“Jangan memanggilku mesum!”

Dia berteriak dengan marah, tetapi mulutnya membentuk senyuman kecil. Muir juga merasa senang dengan hal ini. Mereka bertiga memutuskan untuk menikmati festival untuk sementara waktu.